LOKA KARYA“PENANGGULANGAN PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) PADA HEWAN TERNAK ROMINANSIA”

Pelaksanaan Kurban dan pemotongan hewan dalam situasi wabah PMK pada prinsipnya tetap memperhatikan protokol pencegahan dan penyebaran COVID-19 dan tetap harus memenuhi persyaratan Syariat Islam. Disisi lain juga harus memenuhi persyararan administrasi yaitu memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang diterbitkan oleh Pejabat  Otoritas Veteriner / Dokter Hewan Berwenang.Memenuhi persyaratan teknis yaitu hewan kurban harus dinyatakan sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan hewan yang dilakukan oleh Dokter Hewan atau Paramedik Veteriner dibawah pengawasan dokter hewan berwenang / Penyelia.Hewan Sehat yang dimaksud adalah tidak menunjukkan gejala klinis PMK seperti Demam tinggi (41 derajat celcius), Hipersalivasi / Air liur berlebihan dan berbusa, muncul lesi pada mukosa mulut dan lidah, dan luka pada kaki.   

            Adapun perihal penjualan hewan kurban dilakukan di tempat yang telah mendapat persetujuan dari Pejabat Otoritas Veteriner/Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Persyaratan tempat penjualan hewan kurban meliputi :Memiliki lahan yang cukup sesuai dengan jumlah hewan, Memiliki pagar agar hewan tidak berkeliaran dan tidak memungkinkan hewan peka lain masuk ke tempat penjualan, Tersedia fasilitas untuk menampung limbah, Tersedia fasilitas dan bahan untuk tindakan pembersihan dan disinfeksi terhadap orang, kendaraan, peralatan, hewan, serta limbah, Tersedia tempat isolasi untuk hewan yang terduga terjangkit PMK, Tersedia tempat pemotongan bersyarat untuk hewan yang tidak dapat diobati.

            Pemotongan hewan kurban disarankan di potong di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R). Pemotongan Hewan Kurban di luar RPH-R dengan persyaratan sebagai berikut:Mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Daerah (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian), Memiliki pagar agar hewan tidak berkeliaran dan tidak memungkinkan hewan peka lainnya masuk ke tempat pemotongan hewan, Memiliki lahan yang cukup dengan jumlah hewan, Tersedia tempat isolasi untuk hewan yang diduga PMK, Tersedia fasilitas pemotongan hewan yang higienis sanitasi, Tersedia fasilitas untuk menampung  limbah, Jika terdapat hewan yang menunjukkan gejala sakit panitia kurban segera melaporkan kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Panitia kurban hanya boleh memotong hewan yang sehat dan memenuhi persyaratan dan dilarang memotong hewan sakit tanpa persetujuan dan pengawasan dokter hewan, Hewan Kurban yang diterima Panitia Kurban harus sehat yang dibuktikan dengan SKKH.

            Panitia kurban memiliki tugas yang sedikit lebih kompleks di masa PMK diantaranya: Mendistribusikan daging dan jeroan secara Higienis dalam waktu kurang dari 5 (Lima) jam, Melakukan pembersihan dan disinfeksi terhadap tempat pemotongan, Melaporkan kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian jika ditemukan hewan yang diduga sakit,

Bertanggung jawab dan mengawasi proses pemotongan hewan  kurban serta penanganan daging, jeroan dan limbah.

Kegiatan Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 29Juni 2022 pukul 14.45 WIB berjalan dengan baik dan tertib. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mewabah di Pamekasan saat ini menimbulkan kekhawatiran yang cukup tinggi terutama bagi peternak sapi, karena berdekatan dengan momen Idul Adha. Walaupun telah dijelaskan bahwa PMK dapat disembuhkan dan tidak menular pada manusia, namun ketakutan masyarakat tetap tidak bisa dibendung sehingga terjadi penurunan konsumsi daging sapi di wilayah Pamekasan.

Produksi vaksin di Pamekasan baru tersedia sebanyak 3.000 vaksin sehingga tidak semua peternak sapi bisa mendapatkannya. Di Kecamatan Galis sendiri baru empat desa yang menerima bantuan vaksin dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Indonesia baru dapat memproduksi vaksin sendiri pada tahun 2023. Adapun hewan ternak yang bisa divaksin adalah hewan yang tidak pernah terpapar PMK sebelumnya, hewan yang tidak sedang sakit, dan hewan yang hamil.